Gogolinux

Wednesday, October 20, 2010

Jodoh di Dalam Bemo
Oleh Rizka Kusuma

Satu, dua, tiga, empat. Ya benar, setelah kuhitung-hitung, sudah empat hari berturut-turut aku bertemu dengannya, dengan pemuda itu di tempat dan waktu yang sama.

Semua berawal saat aku sedang menunggu "jemputanku" yang setia, yaitu bemo. Aku sudah berdiri kurang lebih 20 menit dan akhirnya tiba juga jemputanku tersebut. Kebetulan, saat itu tidak banyak orang di dalamnya. Jadi, aku bisa memilih tempat duduk seenakku. Di dalam hanya ada dua siswa SLTP yang sedang ngobrol, seorang ibu paro baya yang tengah tertidur di samping pintu masuk, dan seorang pemuda yang sedang tekun membaca dan duduk paling pojok. Aku masuk ke dalam dan mengambil tempat duduk paling pojok persis di depan pemuda itu.

Entah mengapa tiba-tiba saja aku jadi memperhatikan pemuda itu. Dia sedang membaca buku karya Chairil Anwar yang menurutku tidak begitu menarik. Aku heran. Tidak banyak anak muda yang suka membaca buku sastra, tapi pemuda di depanku ini seolah-olah sangat menikmati bacaannya. Jika dilihat dari jas almamaternya, dia mahasiswa dari kampus yang tidak jauh dari sekolahku. Tiba-tiba saja, dia mendongakkan kepalanya dan menatapku.

Tidak lama kemudian, dia turun dan tersenyum padaku. Aku pun membalas senyumannya. Esoknya, aku naik bemo yang sama pada jam yang sama. Tidak kuduga, ternyata pemuda yang kutemui kemarin duduk di pojok persis seperti kemarin. Aku mengambil tempat duduk di sebelahnya. KaIi ini aku mengamatinya lagi. Dia tidak membaca buku Chairil Anwar, tapi buku Sanusi Pane. Aku mengerutkan dahi. Pemuda ini benar-benar senang membaca buku sastra dan tidak menghiraukan orang di sekelilingnya. Lagi-lagi, dia menoleh padaku. Mungkin, dia merasa sedang kuperhatikan.

"Ehm... apa ada yang salah denganku?" pertanyaannya membuatku terkejut.

"Eh... ehm... tidak. Tidak ada yang salah kok" aku menjawab sekenanya.

"Oh..." dia melanjutkan kembali bacaannya. Seperti hari sebelumnya, dia kemudian turun di tempat yang sama.

Sampai di rumah, aku berpikir, kok bisa sih aku satu bemo lagi dengan dia? Apa mungkin ini semua hanya kebetulan? Ah sudahlah... mungkin aku tidak akan bertemu lagi dengannya besok. Tapi, dugaanku itu salah. Aku bertemu lagi dengannya hari ini dan kali ini agaknya dia mulai mengenaliku.

"Ternyata, kamu sekolah di SMU elite ya?" tanyanya tiba-tiba.

"Eh...mmm...iya," sahutku lirih.

Tidak lama kemudian, pemuda itu turun sambil menyapaku. "Mari Dik..."

Aku menceritakan hal ini kepada ibuku. Beliau hanya menanggapinya sambil tertawa. "Ah, mungkin ini hanya kebetulan atau... jangan-jangan itu memang jodohmu. Ha ha ha," kata ibu lantas tertawa. "Ibu kok bilang begitu sih," ucapku cemberut.

Keesokannya, lagi-lagi kejadian yang sama. "Kalau tidak salah sudah empat hari ini kita selalu satu bemo dan aku baru tahu kamu sekolah di sini. Apa kamu tidak sadar?" kata cowok itu membuka pembicaraan. "Kalau kita selalu satu bemo, memang kenapa? Ada yang aneh ? Toh, ini bemo umum," sahutku. "Iya sih, tapi... ah sudahlah. Lupakan!" ucapnya.

"Oh iya... kelihatannya hari ini kamu tidak baca buku? tanyaku. "Aku lupa membawanya. Oh ya, kamu suka Chairil Anwar tidak? Aku punya banyak koleksi bukunya. Kalau kamu mau, aku bisa meminjamkannya padamu," tawarnya.

"Kenapa kamu mau meminjamkannya padaku? Kita kan baru kenal," ucapku. "Kita memang baru kenal. Tapi sejak pertama ketemu, kita sudah saling memperhatikan. Iya kan? Aku merasa kok kalau kamu perhatikan. Ha ha...," tiba-tiba saja pemuda itu tertawa lebar dan aku tidak sengaja ikut tertawa.

Ternyata, sejak pertama ketemu, dia juga memperhatikan aku. Jadi malu sendiri. Kami pun ngobrol panjang dalam bemo itu dan saling berkenalan. Dari situ aku tahu, dia tidak sesombong yang aku kira. Saat dia turun, lagi-lagi dia tersenyum padaku.

Malamnya telepon berdering dan ibuku mengangkatnya. "Halo... iya betul. Dari siapa? Oh ada, sebentar ya," ibu menutup gagang telepon sambil menoleh padaku. "Re... ada telepon. Dari Rudi. Teman baru ya?" tanya Ibu. Sambil menerima telepon dari tangan ibu, aku menjawab, "Cowok yang aku ceritakan selalu satu bemo itu lho, Bu," jawabku. Sambil berlalu dari hadapanku, beliau berkata, "Tuh kan... Ibu bilang juga apa. Dia memang jodoh kamu, Re". Benarkah begitu?

Penulis adalah pelajar Unair

No comments:

Simulasi KPR