Aku sendiri di sini
Yang selalu Mengharap Hadir mu
Menanti Kasih sayang yang sempurna
Kian hari ku mengharap mu
Tuk mendampingi ku
Yang tak mampu menatap cinta lain
Yang tak sanggup berdiri s'perti dulu
Harus kemana lagi aku harus berjalan
Mencari dirimu yang penuh dengan cinta
Haruskah aku terus berjuang
Menelusuri ranjau yang penuh duri?
Aku tak mengharap lebih darimu
Hanya Cintamu yang kuingin
Hanya Kasih sayang mu yang harap
Andai takdir tak berpihak padaku
Berilah aku kesempatan tuk mencari nya
Mencari orang yang bersedia menggantikan mu
Walau berat rasa hati ini tuk menggantimu
Thursday, October 28, 2010
Saturday, October 23, 2010
dOOOOOOOOOOOOOOOOR
\___________________
../`--||||||||------------
---|]===
./_==o _____________]
...),---.(_(__) /
..// (\) ),----".'
.//___//
/`----' /
____ /
../`--||||||||------------
./_==o _____________]
...),---.(_(__) /
..// (\) ),----".'
.//___//
/`----' /
____ /
hehe
It was after school, i saw her. Standing by the corner of the street, holding her doll. I saw her everyday, always the same. Everyone thinks she's weird. But i was rather interested with her. What was keeping her company? Why she never cried? It was a true mystery, and i'm the one whose going to find out.
The next day, i hid in the shrub next to the corner where she usually are and wait. She came. Holding her dolly, with her school backpack. I crouched nearer to the shrub beside her, i seemed had made a small rustle, she heard it and ran. I grabbed my bag and raced to a street, i tripped over something soft. I took it from the ground. The doll. But, there was something strange about the doll, its eyes were blue like ice, just like the girl. Her bag lay by the ground, she was nowhere to be found.
I let out a silent scream as the doll, somehow, was staring right at me! I dropped it. It's all my fault, i thought. That i shouldn't chase the girl and this wouldn't happen. Was i going crazy? I picked up her bag, and rummaged through it. A dirty book with pictures that i found. I flipped over the pages and i saw the most terrible thing in my life, it was a photo of when her parents died. And another was at a b'day party, she was covered with dirt, as though she'd been running through the forest and carried a knife. She had the most terrible memories.
And i know now, her last company was her doll, dry and empty and she can't think. Her doll was an only choice.
The next day, i hid in the shrub next to the corner where she usually are and wait. She came. Holding her dolly, with her school backpack. I crouched nearer to the shrub beside her, i seemed had made a small rustle, she heard it and ran. I grabbed my bag and raced to a street, i tripped over something soft. I took it from the ground. The doll. But, there was something strange about the doll, its eyes were blue like ice, just like the girl. Her bag lay by the ground, she was nowhere to be found.
I let out a silent scream as the doll, somehow, was staring right at me! I dropped it. It's all my fault, i thought. That i shouldn't chase the girl and this wouldn't happen. Was i going crazy? I picked up her bag, and rummaged through it. A dirty book with pictures that i found. I flipped over the pages and i saw the most terrible thing in my life, it was a photo of when her parents died. And another was at a b'day party, she was covered with dirt, as though she'd been running through the forest and carried a knife. She had the most terrible memories.
And i know now, her last company was her doll, dry and empty and she can't think. Her doll was an only choice.
mimpi buruk
Waw..!! pagi ini cerah banget tapi langitnya gelap..keren euy, udah ah bosen,aku menutup jendela yang dari tadi gk bisa kebuka-buka,hohoho..dengan semangat ’45 yang membara aku berniat buat membereskan kasur,pas udah selesai,aku ngeliat di bawah kasur ada kertas yg lusuh,gak keurus,kusam,kotor dan sebagainya…penasaran,aku deketin pelan2 dan semoga usahaku ini bs berjalan dengan lancar dan gak ada acara ditolak*engga deng*,aku ambil kertas itu..pas aku buka..jreng..jreng..dengan gagah tulisan itu terpampang di atas bagian keras itu “TUGAS LIBURAN”..”Hah.?oow..mati aku,,alaah kenapa kau baru muncul sekarang?lantas apa yang terjadi nanti?”*lho?.. *aku melongo menunggu lalat masuk ke mulut(jiah..) au ah pusing..udah hepi-hepi pas liburan,tau-taunya ada yang ketinggalan…biarin lah,liburan masih satu minggu lagi ini..aku udah mulai tenang,karena sekarang aku dan teman2 mau jalan-jalan ke mall,tanpa diundang nongol di hp ku suara cody simpson yang menandakan datangnya sms di hapeku “lola,kita semua udah di dpn gang rumah lu,cepetan ya..!”jeeh,kawan-kawanku memang baek,abis itu aku bales deh”iya loli..sabar!, kan KATANYA lu anak yg sabar*preet” sip lah..aku turun dari kamar ku yg ada di lantai hdmhci(bacanya 2),,kita pergi dengan tenang dan pulang dengaaan…ketakutan,pasti nyampe rumah bakalan di marahin karena pulangnya kemaleman..gak papa lah..yang penting hepii.6 hari kemudian..wadow..sialan,lali aku,padahal tugas-tugas kan belum pada di kerjain,tinggal 1 hari lagi..aku langsung bangun dari kasurku yang (gak) rapih.langsung cari di internet..untung aja langsung dapet,di print sekarang aja deh..dan resenya.printernya rusak..mau gak mau ya harus ke warnet deket rumah deh.pas nyampe di sana,rame bgt..untung udah ce-esan sm abangnya,asekasek..aku dapet computer punya abangnya deh..aku langsung lari ke rumah ngerjain tugas yang lain..capek banget kalo udah begini.kaga mau kayak gini lagi lah..capek hati,walupun udah selesai tapi kan ini gak semaksimal yang mungkin temen-temen udah buat..besoknya,pas guru meriksa tugas-tugas..aku dimarahin abis-abisan,karena semua materi yg aku kerjain itu keliru alias salah deh..melas banget sih saya..*menatapi nasib*tapi aku bingung banget..perasaan baru aja ngos-ngosan dimarahin dan dihukum,kok sekarang seger bgt,backsoundnya enak lagi,,”HEH,BANGUN KEBO,KERJAANNYA TIDUR MULU LU..”kata kaka’ku sambil dngerin lagu ne-yo and nyiram aku dengan air sirop. ”cih..jadi dari tadi cuma mimpi.?beuh..udah deg-degan setengah mati..”(batinku dalam hati)untuung aja semua hanya mimpi..makanya kalo mimpi yang enak-enak kayak gue dong.!!”dih..gaje bgt kaka’ aku.. Ya udah lah kaga papa,lain kali harusnya aku berdoa dulu sebelum molor,ada hubungannya kali ya…
sumber:cerpennet
sumber:cerpennet
cerpen
Mungkin bagiku tanggal 20 September 2010 mempunyai arti yang lebih buat hidupku.... dimana di tanggal tsb aku menemukan cahaya kehidupan. Namun bagiku sulit untuk menyakini nya apakah ini cinta sesaat atau cinta sejati? tapi senyumannya itu membuat dada ini bergetar hebat dan merasakan kedamaian yang sebelumnya tidak pernah aku rasakan..sulit bila diucapkan dengan kata-kata.Oh Tuhan..aku tidak mau salah langkah lagi cukup sudah bagiku merasakan "luka".. aku tidak kenal dia sebelum nya...dan tidak tau siapa dia, bagiku bukan dari penampilan dan orang itu siapa aku berteman.Kini telah 12 hari lamanya aku mengenalmu.... dan aku mengenal siapa dirimu...kamu orang hebat, pebisnis, sukses dan punya segalanya. Bagimu bukan perkara yang sulit untuk mendapatkan wanita idaman. Namun aku percaya kamu bisa merasakan apa yang aku rasakan....Aku hanya ingin menjadi sahabat kamu, sahabat yang bisa memberikan rasa damai dan kasih. Aku bukan siapa-siapa, yang aku punya hanya harapan untuk membangunkan kembali kepercayaan.Sahabatku.....Aku hanya ingin selalu memberikan kebahagiaan buat kamu, aku hanya ingin mengajak kamu tertawa, aku hanya ingin kamu selalu tersenyum...selamanya....dan selamanya...
sumber:cerpennet
sumber:cerpennet
q memilihmu
Aku memilihmu…
Untuk menemani di kala siang tak bermentari
Saat malam tak berbintang
Agar dapat terangiku dengan senyuman
Aku memilihmu…
Saat terik sinar menyengat dan membakar
Ketika bulan sabit atau purnama
Untuk temaniku menyusuri dunia
Aku memilihmu…
Dengan hati yang tak memilih waktu
Sepenuh cinta tanpa masa
Semenjak harap masih mendengung hampa
simber:anggrekbiru
Untuk menemani di kala siang tak bermentari
Saat malam tak berbintang
Agar dapat terangiku dengan senyuman
Aku memilihmu…
Saat terik sinar menyengat dan membakar
Ketika bulan sabit atau purnama
Untuk temaniku menyusuri dunia
Aku memilihmu…
Dengan hati yang tak memilih waktu
Sepenuh cinta tanpa masa
Semenjak harap masih mendengung hampa
simber:anggrekbiru
puisi sejati
Perpisahan bukanlah akhir dari sebuah perjalanan hidup. Semua harus tetap berjalan, tak peduli penuh penyesalan dan kesedihan. Mungkin aku menanti, mungkin cinta telah mati, atau mungkin cinta sejati, tapi saat sendiri kehidupan harus terus dijalani dengan sepenuh hati.
Undangan itu, bukan berarti ku tak lagi mencintaimu. Bukan pula berarti ku tak mencintai dengan ia yang inisial namanya dirangkai dengan inisial namaku. Dulu pun aku tak mengerti, bahwa cinta sejati bisa tetap tersimpan, sambil terus berjalan menyongsong masa depan.
Pada akhirnya, cinta sejati hanya dapat dirasakan oleh yang mengalami. Sebab hati punya kita sendiri, sebab hidup harus terus dijalani.
sumber:anggrekbiru
Undangan itu, bukan berarti ku tak lagi mencintaimu. Bukan pula berarti ku tak mencintai dengan ia yang inisial namanya dirangkai dengan inisial namaku. Dulu pun aku tak mengerti, bahwa cinta sejati bisa tetap tersimpan, sambil terus berjalan menyongsong masa depan.
Pada akhirnya, cinta sejati hanya dapat dirasakan oleh yang mengalami. Sebab hati punya kita sendiri, sebab hidup harus terus dijalani.
sumber:anggrekbiru
Wednesday, October 20, 2010
Jodoh di Dalam Bemo
Oleh Rizka Kusuma
Satu, dua, tiga, empat. Ya benar, setelah kuhitung-hitung, sudah empat hari berturut-turut aku bertemu dengannya, dengan pemuda itu di tempat dan waktu yang sama.
Semua berawal saat aku sedang menunggu "jemputanku" yang setia, yaitu bemo. Aku sudah berdiri kurang lebih 20 menit dan akhirnya tiba juga jemputanku tersebut. Kebetulan, saat itu tidak banyak orang di dalamnya. Jadi, aku bisa memilih tempat duduk seenakku. Di dalam hanya ada dua siswa SLTP yang sedang ngobrol, seorang ibu paro baya yang tengah tertidur di samping pintu masuk, dan seorang pemuda yang sedang tekun membaca dan duduk paling pojok. Aku masuk ke dalam dan mengambil tempat duduk paling pojok persis di depan pemuda itu.
Entah mengapa tiba-tiba saja aku jadi memperhatikan pemuda itu. Dia sedang membaca buku karya Chairil Anwar yang menurutku tidak begitu menarik. Aku heran. Tidak banyak anak muda yang suka membaca buku sastra, tapi pemuda di depanku ini seolah-olah sangat menikmati bacaannya. Jika dilihat dari jas almamaternya, dia mahasiswa dari kampus yang tidak jauh dari sekolahku. Tiba-tiba saja, dia mendongakkan kepalanya dan menatapku.
Tidak lama kemudian, dia turun dan tersenyum padaku. Aku pun membalas senyumannya. Esoknya, aku naik bemo yang sama pada jam yang sama. Tidak kuduga, ternyata pemuda yang kutemui kemarin duduk di pojok persis seperti kemarin. Aku mengambil tempat duduk di sebelahnya. KaIi ini aku mengamatinya lagi. Dia tidak membaca buku Chairil Anwar, tapi buku Sanusi Pane. Aku mengerutkan dahi. Pemuda ini benar-benar senang membaca buku sastra dan tidak menghiraukan orang di sekelilingnya. Lagi-lagi, dia menoleh padaku. Mungkin, dia merasa sedang kuperhatikan.
"Ehm... apa ada yang salah denganku?" pertanyaannya membuatku terkejut.
"Eh... ehm... tidak. Tidak ada yang salah kok" aku menjawab sekenanya.
"Oh..." dia melanjutkan kembali bacaannya. Seperti hari sebelumnya, dia kemudian turun di tempat yang sama.
Sampai di rumah, aku berpikir, kok bisa sih aku satu bemo lagi dengan dia? Apa mungkin ini semua hanya kebetulan? Ah sudahlah... mungkin aku tidak akan bertemu lagi dengannya besok. Tapi, dugaanku itu salah. Aku bertemu lagi dengannya hari ini dan kali ini agaknya dia mulai mengenaliku.
"Ternyata, kamu sekolah di SMU elite ya?" tanyanya tiba-tiba.
"Eh...mmm...iya," sahutku lirih.
Tidak lama kemudian, pemuda itu turun sambil menyapaku. "Mari Dik..."
Aku menceritakan hal ini kepada ibuku. Beliau hanya menanggapinya sambil tertawa. "Ah, mungkin ini hanya kebetulan atau... jangan-jangan itu memang jodohmu. Ha ha ha," kata ibu lantas tertawa. "Ibu kok bilang begitu sih," ucapku cemberut.
Keesokannya, lagi-lagi kejadian yang sama. "Kalau tidak salah sudah empat hari ini kita selalu satu bemo dan aku baru tahu kamu sekolah di sini. Apa kamu tidak sadar?" kata cowok itu membuka pembicaraan. "Kalau kita selalu satu bemo, memang kenapa? Ada yang aneh ? Toh, ini bemo umum," sahutku. "Iya sih, tapi... ah sudahlah. Lupakan!" ucapnya.
"Oh iya... kelihatannya hari ini kamu tidak baca buku? tanyaku. "Aku lupa membawanya. Oh ya, kamu suka Chairil Anwar tidak? Aku punya banyak koleksi bukunya. Kalau kamu mau, aku bisa meminjamkannya padamu," tawarnya.
"Kenapa kamu mau meminjamkannya padaku? Kita kan baru kenal," ucapku. "Kita memang baru kenal. Tapi sejak pertama ketemu, kita sudah saling memperhatikan. Iya kan? Aku merasa kok kalau kamu perhatikan. Ha ha...," tiba-tiba saja pemuda itu tertawa lebar dan aku tidak sengaja ikut tertawa.
Ternyata, sejak pertama ketemu, dia juga memperhatikan aku. Jadi malu sendiri. Kami pun ngobrol panjang dalam bemo itu dan saling berkenalan. Dari situ aku tahu, dia tidak sesombong yang aku kira. Saat dia turun, lagi-lagi dia tersenyum padaku.
Malamnya telepon berdering dan ibuku mengangkatnya. "Halo... iya betul. Dari siapa? Oh ada, sebentar ya," ibu menutup gagang telepon sambil menoleh padaku. "Re... ada telepon. Dari Rudi. Teman baru ya?" tanya Ibu. Sambil menerima telepon dari tangan ibu, aku menjawab, "Cowok yang aku ceritakan selalu satu bemo itu lho, Bu," jawabku. Sambil berlalu dari hadapanku, beliau berkata, "Tuh kan... Ibu bilang juga apa. Dia memang jodoh kamu, Re". Benarkah begitu?
Penulis adalah pelajar Unair
Oleh Rizka Kusuma
Satu, dua, tiga, empat. Ya benar, setelah kuhitung-hitung, sudah empat hari berturut-turut aku bertemu dengannya, dengan pemuda itu di tempat dan waktu yang sama.
Semua berawal saat aku sedang menunggu "jemputanku" yang setia, yaitu bemo. Aku sudah berdiri kurang lebih 20 menit dan akhirnya tiba juga jemputanku tersebut. Kebetulan, saat itu tidak banyak orang di dalamnya. Jadi, aku bisa memilih tempat duduk seenakku. Di dalam hanya ada dua siswa SLTP yang sedang ngobrol, seorang ibu paro baya yang tengah tertidur di samping pintu masuk, dan seorang pemuda yang sedang tekun membaca dan duduk paling pojok. Aku masuk ke dalam dan mengambil tempat duduk paling pojok persis di depan pemuda itu.
Entah mengapa tiba-tiba saja aku jadi memperhatikan pemuda itu. Dia sedang membaca buku karya Chairil Anwar yang menurutku tidak begitu menarik. Aku heran. Tidak banyak anak muda yang suka membaca buku sastra, tapi pemuda di depanku ini seolah-olah sangat menikmati bacaannya. Jika dilihat dari jas almamaternya, dia mahasiswa dari kampus yang tidak jauh dari sekolahku. Tiba-tiba saja, dia mendongakkan kepalanya dan menatapku.
Tidak lama kemudian, dia turun dan tersenyum padaku. Aku pun membalas senyumannya. Esoknya, aku naik bemo yang sama pada jam yang sama. Tidak kuduga, ternyata pemuda yang kutemui kemarin duduk di pojok persis seperti kemarin. Aku mengambil tempat duduk di sebelahnya. KaIi ini aku mengamatinya lagi. Dia tidak membaca buku Chairil Anwar, tapi buku Sanusi Pane. Aku mengerutkan dahi. Pemuda ini benar-benar senang membaca buku sastra dan tidak menghiraukan orang di sekelilingnya. Lagi-lagi, dia menoleh padaku. Mungkin, dia merasa sedang kuperhatikan.
"Ehm... apa ada yang salah denganku?" pertanyaannya membuatku terkejut.
"Eh... ehm... tidak. Tidak ada yang salah kok" aku menjawab sekenanya.
"Oh..." dia melanjutkan kembali bacaannya. Seperti hari sebelumnya, dia kemudian turun di tempat yang sama.
Sampai di rumah, aku berpikir, kok bisa sih aku satu bemo lagi dengan dia? Apa mungkin ini semua hanya kebetulan? Ah sudahlah... mungkin aku tidak akan bertemu lagi dengannya besok. Tapi, dugaanku itu salah. Aku bertemu lagi dengannya hari ini dan kali ini agaknya dia mulai mengenaliku.
"Ternyata, kamu sekolah di SMU elite ya?" tanyanya tiba-tiba.
"Eh...mmm...iya," sahutku lirih.
Tidak lama kemudian, pemuda itu turun sambil menyapaku. "Mari Dik..."
Aku menceritakan hal ini kepada ibuku. Beliau hanya menanggapinya sambil tertawa. "Ah, mungkin ini hanya kebetulan atau... jangan-jangan itu memang jodohmu. Ha ha ha," kata ibu lantas tertawa. "Ibu kok bilang begitu sih," ucapku cemberut.
Keesokannya, lagi-lagi kejadian yang sama. "Kalau tidak salah sudah empat hari ini kita selalu satu bemo dan aku baru tahu kamu sekolah di sini. Apa kamu tidak sadar?" kata cowok itu membuka pembicaraan. "Kalau kita selalu satu bemo, memang kenapa? Ada yang aneh ? Toh, ini bemo umum," sahutku. "Iya sih, tapi... ah sudahlah. Lupakan!" ucapnya.
"Oh iya... kelihatannya hari ini kamu tidak baca buku? tanyaku. "Aku lupa membawanya. Oh ya, kamu suka Chairil Anwar tidak? Aku punya banyak koleksi bukunya. Kalau kamu mau, aku bisa meminjamkannya padamu," tawarnya.
"Kenapa kamu mau meminjamkannya padaku? Kita kan baru kenal," ucapku. "Kita memang baru kenal. Tapi sejak pertama ketemu, kita sudah saling memperhatikan. Iya kan? Aku merasa kok kalau kamu perhatikan. Ha ha...," tiba-tiba saja pemuda itu tertawa lebar dan aku tidak sengaja ikut tertawa.
Ternyata, sejak pertama ketemu, dia juga memperhatikan aku. Jadi malu sendiri. Kami pun ngobrol panjang dalam bemo itu dan saling berkenalan. Dari situ aku tahu, dia tidak sesombong yang aku kira. Saat dia turun, lagi-lagi dia tersenyum padaku.
Malamnya telepon berdering dan ibuku mengangkatnya. "Halo... iya betul. Dari siapa? Oh ada, sebentar ya," ibu menutup gagang telepon sambil menoleh padaku. "Re... ada telepon. Dari Rudi. Teman baru ya?" tanya Ibu. Sambil menerima telepon dari tangan ibu, aku menjawab, "Cowok yang aku ceritakan selalu satu bemo itu lho, Bu," jawabku. Sambil berlalu dari hadapanku, beliau berkata, "Tuh kan... Ibu bilang juga apa. Dia memang jodoh kamu, Re". Benarkah begitu?
Penulis adalah pelajar Unair
Jodoh di Dalam Bemo
Oleh Rizka Kusuma
Satu, dua, tiga, empat. Ya benar, setelah kuhitung-hitung, sudah empat hari berturut-turut aku bertemu dengannya, dengan pemuda itu di tempat dan waktu yang sama.
Semua berawal saat aku sedang menunggu "jemputanku" yang setia, yaitu bemo. Aku sudah berdiri kurang lebih 20 menit dan akhirnya tiba juga jemputanku tersebut. Kebetulan, saat itu tidak banyak orang di dalamnya. Jadi, aku bisa memilih tempat duduk seenakku. Di dalam hanya ada dua siswa SLTP yang sedang ngobrol, seorang ibu paro baya yang tengah tertidur di samping pintu masuk, dan seorang pemuda yang sedang tekun membaca dan duduk paling pojok. Aku masuk ke dalam dan mengambil tempat duduk paling pojok persis di depan pemuda itu.
Entah mengapa tiba-tiba saja aku jadi memperhatikan pemuda itu. Dia sedang membaca buku karya Chairil Anwar yang menurutku tidak begitu menarik. Aku heran. Tidak banyak anak muda yang suka membaca buku sastra, tapi pemuda di depanku ini seolah-olah sangat menikmati bacaannya. Jika dilihat dari jas almamaternya, dia mahasiswa dari kampus yang tidak jauh dari sekolahku. Tiba-tiba saja, dia mendongakkan kepalanya dan menatapku.
Tidak lama kemudian, dia turun dan tersenyum padaku. Aku pun membalas senyumannya. Esoknya, aku naik bemo yang sama pada jam yang sama. Tidak kuduga, ternyata pemuda yang kutemui kemarin duduk di pojok persis seperti kemarin. Aku mengambil tempat duduk di sebelahnya. KaIi ini aku mengamatinya lagi. Dia tidak membaca buku Chairil Anwar, tapi buku Sanusi Pane. Aku mengerutkan dahi. Pemuda ini benar-benar senang membaca buku sastra dan tidak menghiraukan orang di sekelilingnya. Lagi-lagi, dia menoleh padaku. Mungkin, dia merasa sedang kuperhatikan.
"Ehm... apa ada yang salah denganku?" pertanyaannya membuatku terkejut.
"Eh... ehm... tidak. Tidak ada yang salah kok" aku menjawab sekenanya.
"Oh..." dia melanjutkan kembali bacaannya. Seperti hari sebelumnya, dia kemudian turun di tempat yang sama.
Sampai di rumah, aku berpikir, kok bisa sih aku satu bemo lagi dengan dia? Apa mungkin ini semua hanya kebetulan? Ah sudahlah... mungkin aku tidak akan bertemu lagi dengannya besok. Tapi, dugaanku itu salah. Aku bertemu lagi dengannya hari ini dan kali ini agaknya dia mulai mengenaliku.
"Ternyata, kamu sekolah di SMU elite ya?" tanyanya tiba-tiba.
"Eh...mmm...iya," sahutku lirih.
Tidak lama kemudian, pemuda itu turun sambil menyapaku. "Mari Dik..."
Aku menceritakan hal ini kepada ibuku. Beliau hanya menanggapinya sambil tertawa. "Ah, mungkin ini hanya kebetulan atau... jangan-jangan itu memang jodohmu. Ha ha ha," kata ibu lantas tertawa. "Ibu kok bilang begitu sih," ucapku cemberut.
Keesokannya, lagi-lagi kejadian yang sama. "Kalau tidak salah sudah empat hari ini kita selalu satu bemo dan aku baru tahu kamu sekolah di sini. Apa kamu tidak sadar?" kata cowok itu membuka pembicaraan. "Kalau kita selalu satu bemo, memang kenapa? Ada yang aneh ? Toh, ini bemo umum," sahutku. "Iya sih, tapi... ah sudahlah. Lupakan!" ucapnya.
"Oh iya... kelihatannya hari ini kamu tidak baca buku? tanyaku. "Aku lupa membawanya. Oh ya, kamu suka Chairil Anwar tidak? Aku punya banyak koleksi bukunya. Kalau kamu mau, aku bisa meminjamkannya padamu," tawarnya.
"Kenapa kamu mau meminjamkannya padaku? Kita kan baru kenal," ucapku. "Kita memang baru kenal. Tapi sejak pertama ketemu, kita sudah saling memperhatikan. Iya kan? Aku merasa kok kalau kamu perhatikan. Ha ha...," tiba-tiba saja pemuda itu tertawa lebar dan aku tidak sengaja ikut tertawa.
Ternyata, sejak pertama ketemu, dia juga memperhatikan aku. Jadi malu sendiri. Kami pun ngobrol panjang dalam bemo itu dan saling berkenalan. Dari situ aku tahu, dia tidak sesombong yang aku kira. Saat dia turun, lagi-lagi dia tersenyum padaku.
Malamnya telepon berdering dan ibuku mengangkatnya. "Halo... iya betul. Dari siapa? Oh ada, sebentar ya," ibu menutup gagang telepon sambil menoleh padaku. "Re... ada telepon. Dari Rudi. Teman baru ya?" tanya Ibu. Sambil menerima telepon dari tangan ibu, aku menjawab, "Cowok yang aku ceritakan selalu satu bemo itu lho, Bu," jawabku. Sambil berlalu dari hadapanku, beliau berkata, "Tuh kan... Ibu bilang juga apa. Dia memang jodoh kamu, Re". Benarkah begitu?
Penulis adalah pelajar Unair
Oleh Rizka Kusuma
Satu, dua, tiga, empat. Ya benar, setelah kuhitung-hitung, sudah empat hari berturut-turut aku bertemu dengannya, dengan pemuda itu di tempat dan waktu yang sama.
Semua berawal saat aku sedang menunggu "jemputanku" yang setia, yaitu bemo. Aku sudah berdiri kurang lebih 20 menit dan akhirnya tiba juga jemputanku tersebut. Kebetulan, saat itu tidak banyak orang di dalamnya. Jadi, aku bisa memilih tempat duduk seenakku. Di dalam hanya ada dua siswa SLTP yang sedang ngobrol, seorang ibu paro baya yang tengah tertidur di samping pintu masuk, dan seorang pemuda yang sedang tekun membaca dan duduk paling pojok. Aku masuk ke dalam dan mengambil tempat duduk paling pojok persis di depan pemuda itu.
Entah mengapa tiba-tiba saja aku jadi memperhatikan pemuda itu. Dia sedang membaca buku karya Chairil Anwar yang menurutku tidak begitu menarik. Aku heran. Tidak banyak anak muda yang suka membaca buku sastra, tapi pemuda di depanku ini seolah-olah sangat menikmati bacaannya. Jika dilihat dari jas almamaternya, dia mahasiswa dari kampus yang tidak jauh dari sekolahku. Tiba-tiba saja, dia mendongakkan kepalanya dan menatapku.
Tidak lama kemudian, dia turun dan tersenyum padaku. Aku pun membalas senyumannya. Esoknya, aku naik bemo yang sama pada jam yang sama. Tidak kuduga, ternyata pemuda yang kutemui kemarin duduk di pojok persis seperti kemarin. Aku mengambil tempat duduk di sebelahnya. KaIi ini aku mengamatinya lagi. Dia tidak membaca buku Chairil Anwar, tapi buku Sanusi Pane. Aku mengerutkan dahi. Pemuda ini benar-benar senang membaca buku sastra dan tidak menghiraukan orang di sekelilingnya. Lagi-lagi, dia menoleh padaku. Mungkin, dia merasa sedang kuperhatikan.
"Ehm... apa ada yang salah denganku?" pertanyaannya membuatku terkejut.
"Eh... ehm... tidak. Tidak ada yang salah kok" aku menjawab sekenanya.
"Oh..." dia melanjutkan kembali bacaannya. Seperti hari sebelumnya, dia kemudian turun di tempat yang sama.
Sampai di rumah, aku berpikir, kok bisa sih aku satu bemo lagi dengan dia? Apa mungkin ini semua hanya kebetulan? Ah sudahlah... mungkin aku tidak akan bertemu lagi dengannya besok. Tapi, dugaanku itu salah. Aku bertemu lagi dengannya hari ini dan kali ini agaknya dia mulai mengenaliku.
"Ternyata, kamu sekolah di SMU elite ya?" tanyanya tiba-tiba.
"Eh...mmm...iya," sahutku lirih.
Tidak lama kemudian, pemuda itu turun sambil menyapaku. "Mari Dik..."
Aku menceritakan hal ini kepada ibuku. Beliau hanya menanggapinya sambil tertawa. "Ah, mungkin ini hanya kebetulan atau... jangan-jangan itu memang jodohmu. Ha ha ha," kata ibu lantas tertawa. "Ibu kok bilang begitu sih," ucapku cemberut.
Keesokannya, lagi-lagi kejadian yang sama. "Kalau tidak salah sudah empat hari ini kita selalu satu bemo dan aku baru tahu kamu sekolah di sini. Apa kamu tidak sadar?" kata cowok itu membuka pembicaraan. "Kalau kita selalu satu bemo, memang kenapa? Ada yang aneh ? Toh, ini bemo umum," sahutku. "Iya sih, tapi... ah sudahlah. Lupakan!" ucapnya.
"Oh iya... kelihatannya hari ini kamu tidak baca buku? tanyaku. "Aku lupa membawanya. Oh ya, kamu suka Chairil Anwar tidak? Aku punya banyak koleksi bukunya. Kalau kamu mau, aku bisa meminjamkannya padamu," tawarnya.
"Kenapa kamu mau meminjamkannya padaku? Kita kan baru kenal," ucapku. "Kita memang baru kenal. Tapi sejak pertama ketemu, kita sudah saling memperhatikan. Iya kan? Aku merasa kok kalau kamu perhatikan. Ha ha...," tiba-tiba saja pemuda itu tertawa lebar dan aku tidak sengaja ikut tertawa.
Ternyata, sejak pertama ketemu, dia juga memperhatikan aku. Jadi malu sendiri. Kami pun ngobrol panjang dalam bemo itu dan saling berkenalan. Dari situ aku tahu, dia tidak sesombong yang aku kira. Saat dia turun, lagi-lagi dia tersenyum padaku.
Malamnya telepon berdering dan ibuku mengangkatnya. "Halo... iya betul. Dari siapa? Oh ada, sebentar ya," ibu menutup gagang telepon sambil menoleh padaku. "Re... ada telepon. Dari Rudi. Teman baru ya?" tanya Ibu. Sambil menerima telepon dari tangan ibu, aku menjawab, "Cowok yang aku ceritakan selalu satu bemo itu lho, Bu," jawabku. Sambil berlalu dari hadapanku, beliau berkata, "Tuh kan... Ibu bilang juga apa. Dia memang jodoh kamu, Re". Benarkah begitu?
Penulis adalah pelajar Unair
Cerpen
[ Senin, 23 Juni 2008 ]
Tugas Mulia Sebuah Pohon
Oleh Nathalialie Djaja Waluja
"Hooree... aku akhirnya tumbuh menjadi besar. Menjadi kebanggaan dan perlindungan bagi setiap orang..." kata pohon pelangi. Ya, itu adalah namaku, nama yang diberikan seorang anak kecil kepadaku saat ingin dimusnahkan manusia-manusia tak berprikemanusiaan itu.
Saat itu, dia memberiku nama pelangi karena aku telah memberikan sinar terang. Seperti pelangi dari kegelapan kehidupannya. Kegelapan dari segala kebahagiaan hidup yang tidak pernah didapatkan. Dia adalah anak seorang pengemis. Dia mengamen di jalan setiap hari, kehujanan, kedinginan di jalan, dan diusir serta dihina banyak orang. Namun, hati anak itu sangat mulia. Dia menyelamatkanku dari kondisi alam yang gersang dan memindahkanku dengan sangat hati-hati agar aku tidak mati.
Menanam, merawat, dan menyiramiku secara rutin. Namun, beberapa bulan berikutnya, aku tak tahu nasib anak itu. Dengar-dengar, dia tertangkap satpol PP saat penggusuran gepeng (gelandangan dan pengemis). Saat itu, aku ingin balik menolongnya. Tapi, aku sudah tertancap di sini dan tak bisa ke mana-mana. Maka, aku sangat berutang budi kepadanya. Aku berjanji pada diriku, saat besar nanti akan menjadi pohon yang baik seperti anak itu
"Hari pertamaku dewasa kira-kira apa yang akan kulakukan ya?" tanya pohon pelangi. "Aahaa. Aku tahu, aku akan berusaha melindungi orang-orang yang berteduh padaku, baik saat panas matahari menyengat maupun hujan deras.
Tidak lupa juga aku akan mengisap air yang banyak. Tujuannya, mereka tidak kebanjiran saat hujan. Setelah berpikir, akhirnya datanglah tiga orang yang berteduh saat panas matahari menyengat.
Si pohon pun bersiap-siap melakukan tugasnya. Namun, setelah beberapa jam berteduh, manusia itu membawa sebuah paku dan palu serta papan dari besi. Isinya iklan badut, tukang las, dan sebagainya. Lalu, manusia itu menancapkan papan iklan tersebut pada pohon itu.
"Aaah... tidak. Sakit sekali rasanya. Bagaimana bisa mereka melakukan itu padaku? Dia sudah kutolong, tapi apa balasannya? Dasar manusia tidak tahu terima kasih, " geram si pohon pelangi.
Lima tahun kemudian, tak terasa pohon pelangi semakin berumur. Batangnya semakin besar dan kukuh. Walaupun tubuhnya berubah, sifatnya masih sama. Tentunya, ia masih bertahan hidup dari ulah manusia nakal itu. Namun, di siang bolong ini memang tidak ada yang tahu nasib seseorang. Lagi-lagi, ia masih melindungi manusia dari teriknya matahari. Manusia itu malah membakar sampah tepat di atas akar-akarnya yang menonjol.
"Astaga, ujian apalagi ini. Sakit sekali rasanya, panas dan hampir mati aku dibuatnya!! Tapi, aku tidak boleh menyerah. Tugasku menjaga bumi ini dari kehancuran. Untuk sementara, biarkan saja ulah manusia ini. Mungkin kelak mereka kapok dengan ulahnya sendiri. Sebab, asap polusi yang dihasilkannya akan menanamkan kuman-kuman dalam tubuhnya," ujar sang pohon.
Tahun berganti tahun, usia pohon pelangi sudah lebih dari 20 tahun. Namun, kejadian itu tidak membuat para manusia jera. Yang ada malah semakin menjadi.
Alhasil, si pohon pelangi hampir saja kehilangan sebagian tubuhnya. Bahkan, sel-sel tubuhnya hampir tinggal sedikit. Selain itu, iklan-iklan berupa lembaran-lembaran, poster-poster, dan pamflet-pamflet terus menutupi batang si pohon pelangi. Dengan kondisi seperti itu serta semakin besarnya lubang batang pohon tersebut, si pohon pelangi berusaha tetap hidup selama 20 tahun ke depan.
Tetapi, sepertinya, hal itu sulit terwujud. Hanya selang beberapa tahun, di suatu hari dengan cuaca sangat buruk, hujan lebat disertai kilat menyambar-nyambar, si pohon pelangi benar-benar merasa tidak kuat tagi. Akhirnya, dia mati dengan menjatuhkan diri di atas mobil-mobil dan kendaraan bermotor.
Yaa... si pohon pelangi merobohi beberapa kendaraan dan ada enam korban dalam peristiwa itu. Kini tak akan ada lagi pohon yang berjasa seperti pohon pelangi. Akankah manusia di bumi ini berhenti atas ulahnya? Ataukah mereka akan tetap seperti itu. Hanya kitalah yang tahu jawabannya. (*)
Penulis adalah pelajar SMA Santo Stanislaus Surabaya
Tugas Mulia Sebuah Pohon
Oleh Nathalialie Djaja Waluja
"Hooree... aku akhirnya tumbuh menjadi besar. Menjadi kebanggaan dan perlindungan bagi setiap orang..." kata pohon pelangi. Ya, itu adalah namaku, nama yang diberikan seorang anak kecil kepadaku saat ingin dimusnahkan manusia-manusia tak berprikemanusiaan itu.
Saat itu, dia memberiku nama pelangi karena aku telah memberikan sinar terang. Seperti pelangi dari kegelapan kehidupannya. Kegelapan dari segala kebahagiaan hidup yang tidak pernah didapatkan. Dia adalah anak seorang pengemis. Dia mengamen di jalan setiap hari, kehujanan, kedinginan di jalan, dan diusir serta dihina banyak orang. Namun, hati anak itu sangat mulia. Dia menyelamatkanku dari kondisi alam yang gersang dan memindahkanku dengan sangat hati-hati agar aku tidak mati.
Menanam, merawat, dan menyiramiku secara rutin. Namun, beberapa bulan berikutnya, aku tak tahu nasib anak itu. Dengar-dengar, dia tertangkap satpol PP saat penggusuran gepeng (gelandangan dan pengemis). Saat itu, aku ingin balik menolongnya. Tapi, aku sudah tertancap di sini dan tak bisa ke mana-mana. Maka, aku sangat berutang budi kepadanya. Aku berjanji pada diriku, saat besar nanti akan menjadi pohon yang baik seperti anak itu
"Hari pertamaku dewasa kira-kira apa yang akan kulakukan ya?" tanya pohon pelangi. "Aahaa. Aku tahu, aku akan berusaha melindungi orang-orang yang berteduh padaku, baik saat panas matahari menyengat maupun hujan deras.
Tidak lupa juga aku akan mengisap air yang banyak. Tujuannya, mereka tidak kebanjiran saat hujan. Setelah berpikir, akhirnya datanglah tiga orang yang berteduh saat panas matahari menyengat.
Si pohon pun bersiap-siap melakukan tugasnya. Namun, setelah beberapa jam berteduh, manusia itu membawa sebuah paku dan palu serta papan dari besi. Isinya iklan badut, tukang las, dan sebagainya. Lalu, manusia itu menancapkan papan iklan tersebut pada pohon itu.
"Aaah... tidak. Sakit sekali rasanya. Bagaimana bisa mereka melakukan itu padaku? Dia sudah kutolong, tapi apa balasannya? Dasar manusia tidak tahu terima kasih, " geram si pohon pelangi.
Lima tahun kemudian, tak terasa pohon pelangi semakin berumur. Batangnya semakin besar dan kukuh. Walaupun tubuhnya berubah, sifatnya masih sama. Tentunya, ia masih bertahan hidup dari ulah manusia nakal itu. Namun, di siang bolong ini memang tidak ada yang tahu nasib seseorang. Lagi-lagi, ia masih melindungi manusia dari teriknya matahari. Manusia itu malah membakar sampah tepat di atas akar-akarnya yang menonjol.
"Astaga, ujian apalagi ini. Sakit sekali rasanya, panas dan hampir mati aku dibuatnya!! Tapi, aku tidak boleh menyerah. Tugasku menjaga bumi ini dari kehancuran. Untuk sementara, biarkan saja ulah manusia ini. Mungkin kelak mereka kapok dengan ulahnya sendiri. Sebab, asap polusi yang dihasilkannya akan menanamkan kuman-kuman dalam tubuhnya," ujar sang pohon.
Tahun berganti tahun, usia pohon pelangi sudah lebih dari 20 tahun. Namun, kejadian itu tidak membuat para manusia jera. Yang ada malah semakin menjadi.
Alhasil, si pohon pelangi hampir saja kehilangan sebagian tubuhnya. Bahkan, sel-sel tubuhnya hampir tinggal sedikit. Selain itu, iklan-iklan berupa lembaran-lembaran, poster-poster, dan pamflet-pamflet terus menutupi batang si pohon pelangi. Dengan kondisi seperti itu serta semakin besarnya lubang batang pohon tersebut, si pohon pelangi berusaha tetap hidup selama 20 tahun ke depan.
Tetapi, sepertinya, hal itu sulit terwujud. Hanya selang beberapa tahun, di suatu hari dengan cuaca sangat buruk, hujan lebat disertai kilat menyambar-nyambar, si pohon pelangi benar-benar merasa tidak kuat tagi. Akhirnya, dia mati dengan menjatuhkan diri di atas mobil-mobil dan kendaraan bermotor.
Yaa... si pohon pelangi merobohi beberapa kendaraan dan ada enam korban dalam peristiwa itu. Kini tak akan ada lagi pohon yang berjasa seperti pohon pelangi. Akankah manusia di bumi ini berhenti atas ulahnya? Ataukah mereka akan tetap seperti itu. Hanya kitalah yang tahu jawabannya. (*)
Penulis adalah pelajar SMA Santo Stanislaus Surabaya
Subscribe to:
Comments (Atom)